Wednesday, January 31, 2018

Apakah Penumpang yang Sakit Stroke Boleh Naik Pesawat ?

Banyak calon penumpang yang belum mengetahui, bagaimana cara menangani penumpang yang menderita stroke agar dapat naik ke pesawat. Informasi ini menjadi penting untuk mereka yang mempunyai kerabat penderita stroke, terutama orang tua mereka.

Secara umum, Pihak maskapai menyerahkan seluruh prosesnya kepada pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan serta Surat Keterangan Dokter. Namun, apabila pihak maskapai tidak percaya diri, tidak jarang penumpang tersebut akan ditolak.

Sebagai Parameter, maskapai Garuda Indonesia memutuskan layak atau tidaknya penumpang terbang dengan menggunakan Lembaga Kesehatan dari pihak maskapai yaitu Garuda Sentra Medika (GSM). Kondisi penumpang tersebut harus telah diketahui sebelum penumpang melakukan issued tiket.

Ketika calon penumpang / keluarga akan melakukan issued tiket, pegawai tiketing memberikan Form Medical Information (MEDIF) part 1 dan part 2. Form MEDIF 1 dapat diisi oleh keluarga pasien, sedangkan Form MEDIF 2 diisi oleh Dokter penumpang. Isi dari Form MEDIF 1 merupakan data umum pasien / calon penumpang, sedangkan MEDIF 2 berisi pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya teknis dan hanya dipahami oleh Dokter atau tenaga medis yang biasa menangani pasien.

Setelah diisi, Form dapat dikembalikan kantor penjualan tiket untuk selanjutnya ditindaklanjuti oleh mereka. Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak GSM penumpang akan diinformasikan dan setelah itu penumpang dapat melakukan issued tiket. Biasanya, pihak GSM akan memberikan catatan seperti; harus ditemani pendamping, harus ditemani perawat, dan sebagainya.

Setibanya di Bandara, calon penumpang harus membawa dokumen MEDIF yang telah didapatkan ketika issued di Kantor Penjualan Tiket untuk kemudian dilaporkan kepada petugas check-in. Penumpang atau pendamping, akan diminta mengisi dokumen tambahan dari pihak maskapai  berupa Form pembebasan tanggung jawab. Petugas darat akan berkoordinasi dengan Aircrew agar diberikan penanganan khusus selama di pesawat.

Ketika proses Boarding dilaksanakan, Penumpang yang berada dalam kondisi sakit akan mendapat prioritas untuk boarding terlebih dahulu sebelum penumpang normal agar pihak penumpang dan cabin crew dapat secara leluasa mengatur posisi duduk penumpang sehingga penumpang benar-benar dalam kondisi nyaman dan siap beristirahat.

Demikianlah sekilas informasi mengenai penanganan penumpang yang sedang menderita penyakit stroke. Semoga dapat menjadi referensi dalam melakukan perjalanan. 
Selamat Terbang...!



Saturday, January 27, 2018

Bolehkah Membawa Tongkat ke Pesawat untuk Penumpang Lansia?

Pada artikel sebelumnya, saya telah membahas mengenai prosedur membawa senjata tajam ke pesawat. Pada artikel tersebut salah satu juga telah dijelaskan bahwa Stik Golf, dan Baseball stick dikategorikan sebagai security item (SECIT) dimana perlu perlakuan khusus dalam pengangkutannya sebagai bagasi.

Tidak lama kemudian ada yang mempertanyakan, apakah membawa tingkat untuk seorang lansia tidak diperbolehkan masuk kedalam kabin? Pertanyaan ini dipicu dari banyaknya orang tua atau lanjut usia yang harus bepergian untuk umroh. Tongkat menjadi alat bantu mereka selama perjalanan mengingat mereka tidak sanggup lagi berjalan. Selain kursi roda, tongkat merupakan alat yang bisa di andalkan mengingat ketika mereka harus ke kamar kecil, alat ini sangat membantu jika dibandingkan dengan kursi roda.

bolehkah membawa tongkat ke pesawat

Dalam penanganan alat bantu seperti tongkat untuk orang tua lanjut usia, maka perlu ditinjau dari 2 aspek.
Pertama, dari aspek keamanan penerbangan, tongkat dikategorikan termasuk kedalam SECIT, mengingat bentuknya yang dapat membahayakan keamanan penerbangan apabila disalahgunakan.
Namun apabila dilihat dari aspek yang kedua yaitu kenyamanan dan kemudahan penumpang, maka status tongkat dapat berubah dari SECIT, menjadi alat bantu penumpang, khususnya penumpang dengan usia lanjut. Tongkat seolah-lah telah menjadi bagian dari tubuh penumpang.

Dalam hal ini, apabila terdapat kasus dimana penumpang benar-benar membutuhkan alat bantu tersebut, maka pihak penumpang dapat berkoordinasi dengan pihak maskapai untuk meminta kebijakan pengecualian terhadap penumpag lansia. Pihak maskapai akan melakukan profiling dan berkoordinasi dengan aircrew apakah memungkinkan dalam penerbangan mereka untuk mengizinkan penumpang lansia membawa tongkat. Tentu akan banyak pertimbangan dari pihak maskapai seperti lamanya durasi penerbangan, type penerbangan (apakah penerbangan umroh, charter atau regular), serta pertimbangan-pertimbangan lainnya yang menyangkut kenyamanan, keamanan dan keselamatan seluruh penumpang.

Apabila pihak maskapai memperbolehkan tongkat tersebut masuk kedalam kabin pesawat, maka itu adalah sebuah keringanan bagi penumpang. Namun apabila pihak maskapai tidak mengizinkan, maka pihak penumpang tidak dapat menuntut lebih dan harus patuh terhadap kebijakan maskapai. Tongkat tersebut tetap dapat dibawa sebagai bagasi tercatat dengan prosedur SECIT.

Demikianlah penjelasan mengenai  boleh atau tidaknya tongkat masuk kedalam pesawat, semoga dapat menjadi referensi bagi anda yang akan melakukan perjalanan.
Selamat terbang...!

Friday, January 19, 2018

Membawa Senjata Tajam ke Pesawat ? Begini Prosedurnya

Apabila kita menyaksikan di Bandara-Bandara terutama Bandara yang padat Trafficnya, ada satu kotak kaca khusus di Pos Keamanan yang berisi bermacam-macam benda tajam. Mulai dari Gunting, pisau cutter, pisau lipat, dan lain sebagainya. Petugas keamanan bandara harus memastikan bahwa penumpang yang naik pesawat terbebas dari senjata tajam. Hal ini didasarkan pada aspek keselamatan penerbangan dimana dikhawatirkan berpotensi terjadi pembajakan pesawat apabila seluruh penumpang diperbolehkan membawa senjata tajam atau senjata api. Jadi, kabin pesawat harus dipastikan steril dari senjata atau benda tajam yang dibawa penumpang.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana jika seorang aparat keamanan seperti Polisi atau bahkan TNI ingin naik pesawat dengan membawa pistol ataupun senjata tajam lainnya? Pihak maskapai tentu memiliki prosedur agar penumpang yang membawa senjata dapat tetap terbang dengan membawa barang tersebut.

Senjata api, senjata tajam dan benda tajam dikategorikan sebagai Security Item (Secit). Berikut beberapa item yang dikategorikan sebagai secit:
- Senjata Api ; Pistol, senjata laras panjang, Barreled Gun
- Senjata Tajam; pisau, gunting, pedang, samurai, kapak dsb
- Pisau Mainan, pistol mainan.
- Stik Golf, Stick Baseball
- dsb.

Prosedur dalam mengonboardkan Secit (dalam hal ini pistol dan peluru) ialah sebagai berikut:

1. Pastikan penumpang melapor kepada petugas check-in Counter bahwa mereka membawa senjata / benda tajam.

2. Petugas check in dan Petugas Avsec Ground Handling akan memasukan Secit kedalam Amplop khusus dengan standard tertentu dari pihak maskapai. Proses ini disaksikan oleh penumpang.

3. Apabila bersama dengan pistol tersebut terdapat peluru, maka peluru harus dipisah dengan pistol dan dimasukkan kedalam bullet box. Pihak maskapai memiliki bullet box dengan standard dan kriteria tertentu. Peluru yang diizinkan onboard hanya sebanyak 12 butir untuk tiap penumpang. 

4. Amplop yang telah berisi pistol dan bullet box, kemudian disegel, dan penumpang diberikan kertas tanda terima agar dapat diambil di Bandara tujuan.

5. Amplop Secit tersebut kemudian dibawa oleh petugas Avsec ke Pesawat dan dimasukkan kedalam tas khusus yang bernama Security Item Container (SIC), serta dilaporkan ke Pilot yang in charge pada penerbangan tersebut.

Apabila penumpang membawa Samurai/ Stick Golf yang tidak memungkinkan untuk masuk kedalam amplop, maka penumpang akan tetap diberikan kertas tanda terima dan amplop akan tetap ditempelkan pada Secit sebagai penanda profiling kepemilikan barang. Secit tersebut akan dibawa Avsec ke pesawat dan langsung dimasukkan kedalam SIC.

Demikianlah informasi mengenai tata cara membawa senjata tajam apabila ingin berangkat naik pesawat. Mengingat senjata tajam dan senpi termasuk barang yang berbahaya, maka anda harus ikut memonitor proses packing dan pastikan petugas Avsec tidak meninggalkan Security Item tersebut disembarang tempat. 
Selamat Terbang...!




Saturday, January 13, 2018

Bagaimana Proses Bepergian Naik Pesawat dengan Kursi Roda




Untuk anda yang memiliki kerabat dalam kondisi menggunakan kursi roda, entah itu karena alasan tidak kuat jalan jauh, Karena kaki terkilir, Lansia, atau alasan lainnya, mungkin akan membutuhkan informasi mengenai cara naik pesawat dan bagaimana perlakuan petugas bandara terhadap kondisi tersebut terutama pada saat mendarat di bandara tujuan. Tidak sedikit penumpang yang bepergian dengan menggunakan kursi roda ditemani oleh pendampingnya. Tidak perlu khawatir mengenai perlakuan oleh petugas bandara karena tiap maskapai memiliki standard dalam penanganan penumpang dengan kursi roda.
Lantas, bagaimana penanganan maskapai dalam memberikan pelayanan kepada penumpang dengan kursi roda? Setidaknya, ada dua cara yang dilakukan maskapai untuk menghandle penumpang tersebut.

Cara Pertama, Ketika penumpang tiba di Bandara, maka penumpang akan dipinjamkan kursi roda oleh pihak Maskapai, kursi roda yang dimiliki penumpang dimasukkan sebagai bagasi tercatat bersamaan dengan koper, tas besar dan lain sebagainya. Petugas maskapai akan terus menemani penumpang mulai dari selesai melakukan check-in, hingga naik ke dalam pesawat. Untuk urutan boarding, penumpang dengan kursi roda akan di dahulukan agar ketika masuk kedalam pesawat dan akan duduk di kursi pesawat, petugas darat dan awak kabin dapat leluasa memindahkan penumpang dari kursi roda ke tempat duduk di pesawat. 

Cara Kedua, Saat penumpang sampai di Bandara, ia tidak perlu memasukkan kursi roda sebagai bagasi, namun tetap menggunakan kursi roda tersebut untuk beraktivitas hingga menuju ruang tunggu. Pihak maskapai juga tidak perlu meminjamkan kursi roda karena penumpang tetap menggunakan miliknya. Petugas Check-in hanya akan memberikan label bagasi sweeping pada kursi roda penumpang. Setibanya di ruang tunggu, pihak maskapai akan menemani penumpang tersebut dan ketika waktunya boarding, penumpang akan ditemani menuju pesawat dengan urutan prioritas. Ketika penumpang telah duduk dipesawat, maka kursi roda akan dimasukkan kedalam kompartemen pesawat dan penumpang dapat mengambilnya bersamaan dengan bagasi penumpang lainnya.

Pertanyaan berikutnya, Bagaimana bandara tujuan dapat mengetahui informasi bahwa akan ada penumpang yang membutuhkan kursi roda saat mendarat nanti? 
Ketika pesawat masih terbang dan telah memasuki area bandara tujuan, Pilot akan melakukan kontak dengan petugas darat maskapai melalui Komunikasi Radio. Informasi mengenai jumlah penumpang yang membutuhkan kursi roda akan disampaikan oleh Pilot dan pihak maskapai dapat mempersiapkan kursi roda yang dibutuhkan sehingga pada saat pesawat mendarat, kursi roda sudah siap di depan pintu pesawat untuk menyambut para penumpang tersebut. Dengan komunikasi yang dilakukan antara pilot dan petugas darat, pelayanan kepada penumpang dapat berjalan secara cepat, tanpa membutuhkan waktu yang lama.

Jadi untuk anda yang akan bepergian naik pesawat dengan kursi roda, tidak perlu khawatir karena dua cara tersebut dapat memudahkan anda dalam menjalani aktivitas mulai dari check in, boarding, masuk pesawat, hingga mendarat kembali di tempat tujuan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk anda dan keluarga. 

Selamat terbang...!

Friday, January 12, 2018

Apa Yang Perlu Anda Perhatikan Saat Ingin Membeli Tiket Pesawat

Sebelum anda membeli tiket pesawat baik itu di agen perjalanan, kantor penjualan resmi Maskapai maupun Travel Online, anda perlu memperhatikan beberapa item agar perjalanan bisnis ataupun perjalanan wisata anda dapat berjalan lancar dan jika ada kendala anda tetap mendapatkan pelayanan maksimal dari pihak maskapai.

Dibawah ini adalah beberapa point yang perlu anda perhatikan sebelum mengissued tiket anda :

  1. Pastikan nama yang tercantum pada tiket sesuai dengan Nama di KTP atau Passport 
Hal ini menjadi penting karena apabila ada kesalahan 1 huruf saja, maka penumpang beresiko tidak dapat diterbangkan. Sebagai contoh:

Nama di Kartu Identitas: Reni Handoko
Nama di Tiket: Beni Handoko

Apabila telah terissued oleh pihak Agen, maka untuk mengubah nama agar sesuai, pihak Agen perlu melapor pihak maskapai serta menjalankan beberapa prosedur yang cukup rumit.

Begitu pula apabila penumpang telah tiba di airport dan baru menyadari bahwa nama pada tiket berbeda dengan nama pada kartu identitas, maka petugas check-in harus melakukan profiling extra dan penumpang tidak dapat langsung mendapatkan boarding pass karena pihak maskapai harus melakukan screening tambahan hingga yakin bahwa memang perbedaan nama tersebut adalah murni kesalahan pengetikan bukan atas dasar kesengajaan.

     2. Nomor Kontak dan email

Nomor kontak penumpang menjadi sangat penting karena dengan adanya data berupa nomor kontak terutama Handphone dan email, pihak maskapai dapat menginformasikan apabila ada perubahan penjadwalan penerbangan ataupun pembatalan penerbangan.

Selain itu, pihak maskapai juga dapat memberikan informasi berupa reminder (pengingat) kepada penumpang H-1 sebelum penerbangan (preflight checklist). Sehingga penumpang dapat mempersiapkan penerbangannya lebih dini.

     3. Subkelas Tiket

Apabila anda ingin membeli tiket pesawat, tidak ada salahnya menanyakan apakah tiket yang kita beli termasuk tiket promo atau full fare. Hal ini penting karena ketentuan terhadap subkelas tiket berbeda-beda. 
Ada tiket yang harganya murah, namun tidak dapat dilakukan perubahan jadwal. Sehingga apabila penumpang ingin melakukan perubahan jadwal, ia harus membeli tiket yang baru.
Adapula tiket yang bersifat fleksibel yang jadwalnya dapat diubah sesuai kebutuhan penumpang. Tiket ini cocok untuk penumpang dengan mobilitas pekerjaan yang tinggi. Harganya pun lebih mahal dibanding tiket biasanya.

Apabila suatu ketika penumpang terlambat melapor/ check-in, maka dengan tiket subkelas harga promo, tiket penumpang akan hangus. atau apabila dapat di refund, maka hanya dapat di refund sekian persen saja sesuai ketentuan maskapai. Jika penumpang membeli dengan harga subkelas tengah sampai dengan full fare, maka tiket penumpang masih dapat di reschedule dengan membayar biaya penalti kepada pihak maskapai. 

Dengan memahami poin-poin diatas, maka akan menguntungkan baik pihak maskapai maupun pihak penumpang. Dari sisi maskapai, akan semakin mudah dalam menjalankan operasional penerbangan dan meminimalisasi komplain penumpang. Dari sisi penumpang, akan semakin dimudahkan dalam menerima informasi dari pihak maskapai dan dapat mengambil langkah preventif apabila terjadi perubahan kondisi operasional maskapai.
Selamat terbang...


Saturday, January 6, 2018

Bayi Baru Lahir Hari Boleh Naik Pesawat, Dengan Syarat...


Seringkali Para keluarga muda bertanya-tanya, berapa batas usia bayi diperbolehkan naik pesawat. Hal ini wajar ditanyakan mengingat sedikitnya informasi mengenai batas minimum bayi yang baru lahir agar diperbolehkan naik pesawat.
Kapan sebenarnya bayi yang baru lahir mulai diperbolehkan naik pesawat? Maskapai penerbangan Garuda Indonesia memberikan standard yang cukup ketat dan dapat dijadikan acuan apabila kita membutuhkan referensi mengenai hal diatas. Setidaknya ada 3 kategori usia bayi dalam penanganan penerbangan.
Pertama, Bayi yang baru lahir kurang dari 48 jam, maka pihak maskapai tidak dapat menerima bayi tersebut karena usia bayi masih terlalu dini dan tidak direkomendasikan untuk terbang. Maka, penumpang harus menunggu sampai usia bayi lebih dari 48 jam.
Kedua, Setelah 48 jam atau usia bayi mencapai 2 hari, bayi diperbolehkan terbang, dengan syarat harus mendapatkan sertifikat kesehatan ( Medical Information Part 1 dan Part 2) dari pihak GSM ( Garuda Sentra Medika). Sertifikat ini diperlukan untuk bayi hingga usia 7 hari. Jadi dengan kata lain, Bayi dengan usia 2-7 hari diperbolehkan terbangm dengan syarat ada persetujuan dari GSM.
Form Medical Information (MEDIF) bisa didapatkan di kantor penjualan resmi Garuda Indonesia, atau travel agent yang bekerja sama dengan pihak Garuda. Medif tersebut terdiri dari 2 lembar, dimana lembar 1 dapat diisi oleh orang tua, dan lembar 2 diisi oleh Dokter si anak. Setelah diisi, Form dapat dikembalikan kepihak Agent/ kantor penjualan untuk selanjutnya ditindaklanjuti oleh mereka. Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak GSM, barulah calon penumpang dapat mengissued tiket untuk bayi tersebut.
Form medif yang telah disetujui oleh pihak maskapai harus dibawa ke Bandara pada saat Penumpang melakukan check-in sebagai bukti bahwa Bayi dengan usia tersebut telah dinyatakan layak terbang oleh pihak Maskapai. Form tersebut jugalah yang akan dilaporkan petugas darat kepada crew pesawat sebagai informasi bahwa ada penumpang yang membutuhkan perhatian khusus pada penerbangan tersebut. Selain itu, pihak maskapai akan meminta orang tua bayi untuk mengisi form of indemnity yang akan diberikan pada saat check in di Bandara.
Ketiga, Bayi diatas 7 hari dan dibawah 24 bulan, bayi diperbolehkan terbang tanpa perlu persetujuan dari Garuda Sentra Medika. Selain itu, penumpang juga tidak perlu mengisi formulir apapun karena status bayi diatas 7 hari telah dinyatakan aman untuk terbang selama dalam kondisi sehat. Jika kondisi bayi sedang sakit, maka tetap diperlukan Persetujuan dari GSM.
Bagaimana dengan bayi prematur? Apabila bayi lahir dalam kondisi prematur, maka pihak maskapai dapat menerima bayi tersebut, namun tetap diperlukan pengisian Form Medif agar bisa mendapatkan persetujuan dari Garuda Sentra Medika.
Demikianlah informasi mengenai penanganan Bayi  baru lahir yang akan bepergian dengan pesawat. Dengan memahami hal ini, para orang tua tidak perlu bingung ataupun khawatir untuk memberangkatkan bayinya.

Wednesday, January 3, 2018

Akan Naik Pesawat Saat Hamil? Penuhi Syarat ini Agar Tidak ditolak Maskapai

Bagi kamu para ibu yang sedang dalam kondisi hamil, tapi harus bepergian karena alasan pekerjaan, mudik, ataupun karena alasannya lainnya, wajar apabila kamu merasa risih dan cemas ketika harus naik pesawat. Terlebih lagi dengan adanya berita-berita penumpang melahirkan diatas pesawat.
Tentu pihak maskapai telah memperhitungkan bagaimana cara menghandle penumpang dalam kondisi hamil. Maskapai memiliki syarat yang harus dipenuhi oleh penumpang apabila akan terbang dalam kondisi hamil/ mengandung.

Berikut adalah beberapa informasi yang dapat kamu jadikan referensi agar kamu tidak ditolak oleh pihak maskapai saat ingin bepergian dengan pesawat:

1. Ketika membeli / melakukan issued tiket, informasikan kepada agen atau penjual tiket bahwa kamu sedang dalam kondisi hamil. Sebutkan pula usia kehamilan pada tanggal keberangkatan yang direncanakan. Tujuannya adalah agar agen perjalanan dapat mengkonfirmasi kepada pihak maskapai mengenai prasyarat/ dokumen yang dibutuhkan pada usia kehamilan tsb.

2. Siapkan dokumen pendukung perjalananmu. Untuk usia kehamilan dibawah 32 Minggu dan kehamilan tidak dalam kondisi bermasalah, kamu cukup membawa surat keterangan hamil dari Dokter Kandungan, kemudian melapor kepada petugas check-in counter.
Petugas check-in akan memberikan beberapa form yang harus di isi, seperti surat pernyataan hamil dan medical information. Apabila petugas check-in ragu mengenai usia kehamilan, maka kamu akan diarahkan ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk meminta referensi usia kehamilan dan pernyataan layak terbang.


Sedangkan, untuk usia kehamilan 32 minggu - 36 minggu, atau usia kehamilan kurang dari 32minggu namun memiliki masalah kehamilan, beberapa maskapai memberikan peraturan yang lebih ketat. Hal ini mengingat usia di atas 32 minggu sudah tergolong kedalam hamil tua dan pihak maskapai benar-benar harus memastikan kondisi kandungan berada dalam kondisi terbaik.
Sebagai contoh maskapai Garuda Indonesia, dimana setiap penumpang Garuda yang berusia 32-36 minggu wajib mengisi form medical information (MEDIF) tahap 2, dimana Form tersebut akan diserahkan ke Garuda Sentra Medika (GSM) untuk di lakukan observasi apakah penumpang dinyatakan layak terbang oleh pihak Garuda.

Form ini dapat diperoleh di kantor penjualan resmi Garuda ataupun Agen yang bekerja sama dengan pihak Garuda.
Form tersebut berisi tentang informasi keberangkatan pasien ( tanggal keberangkatan, apakah berangkat sendiri atau ditemani,dsb), dan catatan medis pasien yang hanya bisa di isi oleh dokter.

Jadi sebelum issued tiket, penumpang harus terlebih dahulu memiliki form ini dan meminta dokter kandungan untuk mengisi form tsb. Setelah dilakukan pengisian, kemudian penumpang dapat memberikan form tersebut kepada pihak Agen / Kantor penjualan resmi Garuda. Pihak Agen/ Pihak Garuda akan menindaklanjuti ke GSM untuk dipastikan apakah penumpang dinyatakan layak terbang atau tidak.

Jika penumpang dinyatakan layak terbang, barulah penumpang diperbolehkan issued tiket untuk tgl keberangkatan yang sudah disetujui pihak GSM.  Tidak lupa dokumen-dokumen yang lain seperti surat dokter, surat dari KKP juga tetap perlu didapatkan sebagai dokumen pendukung.

Demikianlah informasi mengenai syarat-syarat ketika kamu ingin naik pesawat dalam kondisi hamil. Memang terlihat sedikit sulit, namun demi keselamatan adik bayi didalam kandungan, prosedur diatas harus dipenuhi. Semoga perjalananmu lancar dan penuh dengan kenyamanan.

Tuesday, January 2, 2018

Untuk Kamu yang akan Naik Pesawat Pertama kali, Perhatikan Beberapa Hal ini

Untuk para netizen yang akan bepergian naik pesawat entah untuk urusan bisnis, mudik, atau travelling ke suatu destinasi wisata, banyak hal yang harus disiapkan terutama menjelang keberangkatan.
Jangan sampai ada sesuatu yang terlewatkan sehingga membuat perjalanan kita terganggu bahkan batal.
Sebenarnya, apa saja sih hal-hal yang berkaitan dengan keberangkatan pesawat yang harus diperhatikan dan jangan sampai terlewatkan? Berikut 3 hal yang setidaknya harus diperhatikan:

 Pastikan Status Tiket Sudah di Issued, Bukan Sekedar Booking

Hal yang paling dasar yang harus kamu siapkan ialah tiket pesawat. Pastikan tiket pesawat tersimpan dengan baik dalam tempat yang mudah dijangkau. Saat ini netizen sudah semakin dimudahkan dengan adanya e-ticket di smartphone.
Nah, pastikan tiket kamu statusnya sudah OK ya, bukan sekedar bookingan ataupun waiting list.
Kamu patut waspada jika kamu beli tiket kepada calo / orang yang belum dikenal baik. Karena hal itu berpotensi menjadi kasus penipuan. Banyak netizen yang terkena tipu karena hanya diberikan kode booking saja mereka sudah percaya, padahal status masih booking dan belum di issued (dibayar). Sehingga ketika tiba di airport pada saat lapor checkin, netizen akan dikagetkan dengan tiketnya yang sudah expired karena belum dibayar. Kode booking telah hangus. Padahal uang tiket telah dibayarkan kepada orang/ calo tersebut. Hal ini jangan sampai terjadi pada kamu yah.

Jangan Lupa Membawa KTP/Passport
 
KTP atau passport adalah kartu wajib yang harus selalu kamu bawa saat bepergian terutama dengan pesawat. Mengapa? Karena hal ini berkaitan dengan keselamatan penerbangan sehingga pihak maskapai harus melakukan profiling dengan mencocokan antara nama pada tiket dengan nama pada Kartu identitas. Tidak hanya nama, Pihak maskapai harus memastikan wajah penumpang dengan foto pada kartu identitas.

Hal ini menjadi penting mengingat besarnya resiko pembajakan pesawat akibat dari proses profiling yang tidak ketat. Disamping itu, Banyak penumpang yang berusaha melakukan kecurangan dengan menggunakan tiket orang lain untuk terbang. Hal ini tidak dibenarkan dan masuk kedalam pelanggaran hukum karena membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan.

Lalu, bagaimana jika kamu tidak membawa KTP? Untuk penerbangan Domestik, kamu bisa memperlihatkan kartu identitas lain yaitu SIM. Namun untuk penerbangan internasional, maka passport menjadi benda wajib yang tidak dapat kamu tinggalkan.

Untuk penerbangan umroh/ Haji, pastikan kamu membawa Kartu Bukti telah melakukan vaksin meningitis (atau biasa disebut sebagai Kartu kuning). Pada beberapa maskapai. Kartu kuning harus diperlihatkan untuk memastikan penumpang telah melakukan vaksin dan meminimaliasi resiko terkena Penyakit Meningitis saat melakukan ibadah tanah suci.

Pastikan Nama pada tiket sesuai dengan nama pada KTP/ Kartu identitas lainnya.

Akan menjadi masalah ketika nama kamu pada kartu identitas tidak sesuai dengan nama pada tiket. Maskapai akan melakukan pengecekan pada saat proses check-in dan apabila menemukan ketidaksesuaian antara nama pada kartu identitas dengan nama pada tiket walaupun berbeda satu huruf, maka kemungkinan kamu tidak bisa berangkat. Terlebih lagi apabila penerbangan internasional dimana pemeriksaan bukan hanya dari pihak maskapai namun juga dari pihak imigrasi.

Beberapapa maskapai memberikan keleluasaan untuk mengubah nama tiket agar sesuai dengan nama pada kartu identitas. Tapi yang pasti hal ini membutuhkan waktu dan kamu beresiko ketinggalan pesawat. So, sebelum melakukan issued tiket, pastikan kembali kesesuaian nama pada tiket dengan kartu identitas ya.

3 Hal diatas merupakan perkara yang sangat sederhana namun dapat berdampak besar pada kenyamanan perjalanan kita. Pastikan ketika kita berangkat menuju Bandara, tiket kita sudah benar-benar berstatus OK, tidak lupa membawa kartu identitas dan dokumen penting lainnya, serta pastikan nama di tiket sesuai dengan nama pada kartu identitas. Selamat bepergian dan semoga perjalanan kamu menyenangkan.